Rekam Jejak Calon Penguasa Jawa Barat | Liputan 24 Jawa Barat
www.AlvinAdam.com

Gratis Berlangganan

Tuliskan Alamat Email Anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Rekam Jejak Calon Penguasa Jawa Barat

Posted by On 7:20 PM

Rekam Jejak Calon Penguasa Jawa Barat

  • VIVA â€" Empat pasang calon gubernur dan wakil gubernur bakal berebut 31.730.039 suara warga Jawa Barat. Hari ini, Rabu, 27 Juni 2018, warga Pasundan bakal memilih pemimpin.

    Mereka yang akan bertarung pada Pilkada Jabar kali ini yaitu, Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum, TB Hasanuddin-Anton Charliyan, Sudrajat-Ahmad Syaikhu, dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi.

    Sebelum Anda memilih, kami mencoba menampilkan profil singkat empat pasang calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat 2018.

    Ridwan Kamil â€" Uu Ruzhanul Ulum (RINDU)
    Nomor urut: 1
    Partai pengusung: PKB, PPP, Nasdem, Hanura

    Cagub dan Cawagub Jawa Barat, Ridwan Kamil (kiri) dan Uu Ruzhanul Ulum (kanan)

    Ridwan Kamil

    Keahliannya sebagai arsitek banyak mengundang decak kagum. Bukan cuma dari masyarakat di Tanah Air, tapi juga di mancanegara. Pria kelahiran Bandung, 4 Oktober 1971 ini memiliki segudang prestasi dan penghargaan.

    Karena kecakapan dan prestasinya itulah, putra dari pasangan Dr. Atje Misbach, S.H dan Dra. Tjutju Sukaesih itu dipercaya warga menjadi Wali Kota Bandung sejak 2013 hingga 2018.

    Kang Emil, begitu dia biasa disapa, dikenal sudah cerdas dan aktif sedari kecil. Pantang menyerah dan pekerja keras, karakter yang melekat di diri pria lulusan S2 University of California, Berkeley, Amerika Serikat.

    Pada Pilgub Jabar 2018, ia maju sebagai ca lon gubernur berpasangan dengan Uu Ruzhanul Ulum. Berbekal kemampuannya memimpin Kota Bandung, Ridwan Kamil yakin bisa menjadi pilihan warga Jawa Barat.

    Uu Ruzhanul Ulum

    Pria kelahiran Tasikmalaya, 10 Mei 1969, ini merupakan politikus Partai Persatuan Pembangunan. Uu sudah aktif sejak masih menjadi mahasiswa di Fakultas Ekonomi Manajemen, Universitas Siliwangi.

    Dia kemudian merintis jalan di kancah politik melalui PPP sebagai pengurus cabang. Kariernya kemudian menanjak, hingga akhirnya terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya dari PPP pada 1999.

    Setelah itu, Uu terpilih menjadi Ketua DPRD Tasikmalaya periode 2004-2009. Tahun 2009, ia kembali menjadi anggota DPRD periode 2009-2011.

    Pada 2011, saat usianya menginjak 42 tahun, Uu mencoba peruntungan mengikuti pemilihan Bupati Tasikmalaya.

    Saat itu, ia berpasangan dengan Ade Sugianto dan berhasil keluar sebagai pemenang Pilkada Tasikmalaya 2011. Uu dan Ade menjadi Bupa ti dan wakil Bupati Tasikmalaya untuk periode 2011-2016.

    Uu kembali terpilih menjadi Bupati Tasikmalaya untuk periode 2016-2021. UU dan Ade dilantik di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat. Setelah dilantik, para pendukungnya juga menggelar deklarasi mendukung Uu untuk maju menjadi calon Gubernur Jabar periode 2018.

    Niatnya belum terpenuhi sepenuhnya, Uu disodorkan untuk menjadi calon Wakil Gubernur mendampingi Ridwan Kamil.

    TB Hasanuddin â€" Anton Charliyan (Hasannah)
    Nomor urut: 2
    Partai pengusung: PDIP

    Cagub dan Cawagub Jawa Barat, TB Hasanuddin (kiri) - Anton Charliyan (kanan)

    TB Hasanuddin

    Dunia militer mengantarkan pria kelahiran Majalengka, 8 September 1952 it u ke lingkaran Istana; dari ajudan hingga menjadi sekretaris militer presiden. Begitu pensiun, jenderal bintang dua yang punya banyak penghargaan itu terjun ke kancah politik, bergabung dengan PDI Perjuangan, partai pimpinan Megawati Seokarnoputri.

    Hasanuddin merupakan lulusan AKABRI tahun 1974. Semasa aktif di dunia militer, ia pernah ditugaskan di banyak posisi.

    Dia makin dekat dengan kekuasaan tatkala menjadi ajudan Wakil Presiden Try Sutrisno dan Presiden B.J. Habibie.

    Di tahun 2001, suami dari Ika Eviolina ini diberi amanah besar sebagai Sekretaris Militer Presiden Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono.

    Saat usianya 53 tahun, TB Hasanuddin menjabat sebagai Staf Mabes TNI AD hingga 2009. Pensiun dengan pangkat mayor jenderal.

    Pada Pemilu 2009, TB Hasanuddin menjadi anggota DPR RI dari PDI Perjuangan. Kiprahnya di DPR moncer. Ia didaulat menjadi Wakil Ketua Komisi I. Ia terpilih kembali sebagai Anggota Dewan periode 2014-2019.

    Di partai, ia pernah menjabat sebagai Ketua Departemen Politik DPP PDI Perjuangan. Kemudian, pada tahun 2012 hingga saat ini, TB Hasanuddin dipercaya menjabat Ketua DPD PDIP Jawa Barat.

    Wilayah Jawa Barat tidak asing lagi bagi TB Hasanuddin. Namanya kerap dimunculkan menjadi bakal calon Gubernur Jabar dari PDI Perjuangan.

    Akhirnya, pada Pilkada tahun ini, PDI Perjuangan mencalonkannya sebagai calon Gubernur Jawa Barat, berpasangan dengan Anton Charliyan, mantan Kapolda Jabar.

    Anton Charliyan

    Lihat Juga
    • AHY Pede Demokrat Raih 50 Persen Kemenangan di Pilkada 2018

    • Pilkada dengan Dua Paslon Jadi Perhatian Kepolisian

    • Gelar Doa Bersama, Demokrat Harap Pilkada 2018 Tak Ada Kecurangan

    Baru sebulan menjabat Kapolda Jawa Barat, namanya semakin populer kala terjadi perseteruan antara organisasi Front Pembela Islam (FPI) dengan Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI). Rupanya, Anton Charliyan adalah Ketua Dewan Pembina GMBI.

    Peristiwa bermula saat kedatangan Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab diperiksa di Polda Jawa Barat terkait penistaan lambang negara dengan disambut oleh massa FPI. Ternyata, ormas GMBI juga hadir untuk mendemo FPI. Bentrokan tak terhindarkan dan berujung jatuhnya korban. Saat itu, Anton mengakui sebagai pembina organisasi GMBI dan siap diganti bila salah.

    Anton lulus Akademi Kepolisian tahun 1984. Masa tugasnya banyak di lingkungan reserse. Pria kelahiran Tasikmalaya, 29 November 1960 itu, pada 2000 ikut mengusut kasus pembunuhan Marsinah, buruh yang tewas di S urabaya, Jawa Timur.

    Setelah itu ia diberi tugas teritorial sebagai Kapolres Wajo di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2002. Karena pengalamannya di reserse, Anton kemudian ditarik ke Polda Metro Jaya. Ia pun ikut membongkar kasus pembunuhan aktivis HAM, Munir.

    Karier Anton moncer. Berbagai jabatan di kepolisian ia emban. Setelah makan asam garam di Korps Bhayangkara, Anton mencoba peruntungan di dunia politik. Dia dipercaya PDIP mendampingi TB Hasanuddin untuk bertarung menjadi pemimpin warga Jawa Barat.

    Sudrajat â€" Ahmad Syaikhu (Asyik)
    Nomor urut: 3
    Partai pengusung: Gerindra, PKS, PAN

    Cagub dan Cawagub Jawa Barat, Sudrajat (kiri) - Ahmad Syaikhu (kanan)

    Sudrajat

    Pria kela hiran Balikpapan, 4 Februari 1949 ini merupakan lulusan AKABRI tahun 1971. Perjalanan karier Sudrajat di dunia militer cemerlang. Banyak juga prestasi yang diraih suami dari Sally Salziah ini.

    Selain mengenyam pendidikan di militer, Sudrajat juga menempuh pendidikan tinggi di Kennedy School Government, Harvard University, Boston, Amerika Serikat. Dia lulus dengan gelar Master in Public Administration pada tahun 1993.

    Nama Sudrajat semakin dikenal ketika menjabat sebagai Kepala Pusat Penerangan Tentara Nasional Indonesia (Kapuspen TNI), 1 Januari 1999. Sebab, pasca-insiden Mei 1998, banyak aksi demo, TNI sering jadi sorotan. Ia berusaha menjelaskan berbagai macam kejadian yang melibatkan TNI. Bisa dikatakan, Sudrajat adalah wajah publik TNI.

    Kiprahnya di kemiliteran dan pemerintahan sudah malang melintang. Bukan cuma di dalam negeri, Sudrajat juga beberapa kali dipercaya bertugas sebagai atase pertahanan di beberapa negara. Bahkan dia didapuk sebagai Duta Besar RI u ntuk Republik Rakyat Tiongkok merangkap Mongolia (2005-2009).

    Berpengalaman di pemerintahan dan militer, purnawirawan jenderal bintang dua ini kemudian dipercaya oleh Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, untuk maju pada Pilgub Jabar 2018.

    Ahmad Syaikhu

    Sebelum menjadi politikus, Ahmad Syaikhu mengawali kariernya sebagai pegawai negeri sipil sebagai Auditor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Provinsi Sumatra Selatan. Kiprahnya menanjak hingga ke BPKP Pusat pada Deputi Bidang Pengawasan Keuangan Daerah.

    Pria kelahiran Cirebon, 23 Januari 1965 itu, kemudian dicalonkan menjadi anggota DPRD Bekasi oleh Partai Keadilan Sejahtera pada 2004. Saat itulah Syaikhu harus menanggalkan statusnya sebagai PNS dan karena terpilih menjadi anggota DPRD Bekasi periode 2004-2009.

    Sebelum berakhir tugasnya di parlemen, suami dari Lilik Wakhidah ini kemudian mencalonkan diri menjadi Wali Kota Bekasi pada 2008, berpasangan de ngan Kamaludin Djaini. Namun dia kalah oleh pasangan Mochtar Mohamad-Rahmat Effendi.

    Pada 2009, dia kemudian terpilih menjadi anggota DPRD Jawa Barat periode 2009-2013. Pada Pemilihan Wali Kota Bekasi, dia kemudian kembali maju. Kali ini, dia mendampingi Rahmat Effendi. Pasangan Rahmat Effendi-Ahmad Syaikhu terpilih.

    Kali ini, Ahmad Syaikhu mencoba peruntungan di Pilkada Jawa Barat. Dia maju mendampingi Sudrajat, yang diusung PKS dan Gerindra.

    Deddy Mizwar â€" Dedi Mulyadi (Deddy-Dedi)
    Nomor urut: 4
    Partai pengusung: Golkar dan Demokrat

    Cagub dan Cawagub Jawa Barat, Deddy Mizwar (kiri) dan Dedi Mulyadi (kanan)

    Deddy Mizwar

    Namanya besar sebagai aktor. Banyak peran ya ng sudah dimainkan pria kelahiran Jakarta, 5 Maret 1955 ini. Si Naga Bonar, salah satunya. Bukan cuma itu, sederet penghargaan di dunia film sudah diraihnya. Semua itu merupakan hasil dari usaha yang sudah dilakoninya sejak muda.

    Selain sebagai pemain film, sutradara, serta produser, Deddy Mizwar juga merupakan bintang iklan sejumlah produk. Sukses besar di dunia peran dan iklan, menggoda Deddy mencoba ke dunia politik.

    Pada 2013, Deddy Mizwar digandeng Gubernur incumbent, Ahmad Heryawan, untuk menjadi wakilnya dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat. Popularitasnya sebagai aktor dinilai bakal mendongkrak Heryawan kembali menjabat Gubernur. Pasangan ini pun meraih kemenangan.

    Pada Pilkada 2018, Deddy Mizwar kembali maju. Kali ini sebagai calon Gubernur. Dicalonkan oleh Partai Demokrat, berpasangan dengan Dedi Mulyadi dari Partai Golkar.

    Dedi Mulyadi

    Aktif di berbagai organisasi mengantarkan Dedi Mulyadi ke lembaga legislatif dan eksekutif. Ia menjadi anggota dewan, wakil bupati, hingga menjadi Bupati Purwakarta untuk dua periode.

    Banyak terobosan selama memimpin Purwakarta, membuatnya menjadi bahan pemberitaan. Kebijakan-kebijakannya dinilai berbeda dengan kebanyakan bupati lain. Di antaranya, melarang guru memberikan pekerjaan rumah kepada murid-muridnya. Dedi sangat cinta dengan seni dan budaya lokal. Bahkan dia tak sungkan mengenakan pakaian adat di setiap kesempatan.

    Pria kelahiran Subang, 11 April 1971 itu dipercaya masyarakat menjabat Bupati Purwakarta selama dua periode yakni, 2008-2013 dan 2013-2018. Tak lama lagi masa baktinya di Purwakarta selesai, Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat itu mencoba peruntungan maju dalam Pilkada 2018, mendampingi Deddy Mizwar.

Sumber: Berita Jawa Barat

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »